Sudah agak lama, saya sempat berdiskusi via email dengan beberapa teman aktivis tentang seberapa eco-friendly-kah kami. Berawal dengan sebuah gelitik dari salah satu kolega di sebuah LSM lingkungan yang mengkritik pembuatan tiket nobar (nonton bareng) filmindie yang dipandang percuma. Toh, nobar-nya gratis, ngapain buang-buang kertas, tidak ramah lingkungan, dst. (Catatan: saat itu pemakaian kertas untuk tiket nobar, kalau tidak salah sudah berupa kertas daur ulang loh!)
Gelitik ini berbalik. Kalau dikaji ulang apa yang dilakukan oleh rekan tersebut atas nama organisasi dan kampanye lingkungan, bukankah sebenarnya juga telah menghabiskan sekian banyak media berbahan kertas baik yang daur ulang maupun kertas baru? Belum lagi aktivitas operasional di kantor yang terbilang tidak kecil sangat memungkinkan adanya pemborosan energi yang bukan melulu urusan kertas.
Saya tidak sedang berdiri pada pihak manapun, karena diskusi kami lebih bersifat introspeksi.Namun “Dilema pecinta lingkungan” semacam ini saya yakin juga menjadi perdebatan diantara kita semua yang merasa mencintai lingkungan. Memang benar-benar dilema kok! Kenapa?
Dalam konteks kampanye ramah lingkungan, seorang aktivis sangat rentan kritikan balik, apakah dia sendiri sudah ‘bernafas’ seperti yang dia sosialisasikan?
Contoh kecil…ini terjadi ketika saya jadi ‘penggembira’ kampanye “Stop Pemiskinan Sekarang Juga” tahun 2009, di lapangan Puputan, Denpasar, Bali. Saya dan seorang teman hadir di sana hanya sekedar ingin tahu ini acara apa dan mau dilaksanakan seperti apa. Nah, sesampai di sana saya langsung disodori sebuah gelang solidaritas berwarna putih oleh seorang relawan aktivis lingkungan -yang tidak perlu saya sebutkan nama organisasinya di sini-.
Saat itu gelang masih baru, you know, in a smalll transparent plastic! Well, dia langsung meminta plastiknya kembali. Nah, karena saya tahu dia dari aktivis lingkungan, saya iseng bertanya, “Plastiknya mau didaur ulang ya, mas?” Saya hanya berharap jawaban, “Ya.” Bukan yang lain! Tapi ternyata dia tidak mendengar kata hati saya. Hiks….
Dia hanya menjawab, “Daripada dibuang sembarangan di lapangan, Mbak.” Glek! Saya hanya bisa senyum dan menelan ludah sendiri. Mungkin Mas itu tidak bermaksud merujuk “perilaku buang sampah sembarangan” padasaya.
Namun tak urung dalam hati saya nggrundhel, “Emang saya nggak tahu di mana buang sampah ya?!”
Entah sebenarnya dia tahu maksud pertanyaan iseng saya dan ngeles, atau memang dia tidak ‘ngeh’ arahnya? Apapun itu, di depan mata saya, mereka sudah memanfaatkan plastik untuk hal yang -menurut saya- tidak penting. Bukankah satu-satunya cara yang paling efektif untuk membantu meringankan kerja tanah menguraikan plastik adalah dengan tidak memanfaatkannya atau mengurangi penggunaannya.
Hmm…atau mungkin sebenarnya di kantor Mas itu ada lahan/proyek reuse dan recycle plastik, jadi wajar kalau dia mungkin ada rasa tak berdosa dengan memakai plastik tersebut sebagai pembungkus gelang ‘baru’. Yaah…semoga saja bungkus plastik itu tidak digunakan hanya sebagai legitimasi bahwa gelang solidaritas tersebut adalah barang ‘baru’ bukan bekas. Miris nggak sih?
Lepas dari itu semua, timbul pertanyaan, bisakah seorang aktivis lingkungan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dalam kondisi benar-benar “sehat” dan berpihak pada lingkungan? Jawaban yang realistis saat ini: TIDAK!
Ada keterkaitan antar sesama manusia, dan manusia dengan lingkungan yang kondisinya sekarang tidak memungkinkan untuk benar-benar ramah lingkungan. Kalaupun kita bisa, maka kita semua harus sama-sama sadar dan bergerak!!
KITA = adalah semua yang berhubungan dengan diri sendiri. Ya saudara, teman, sekolah, institusi, organisasi, pemerintah sebagai penentu kebijakan/peraturan tentang limbah, dll.
Menjadi aktivis lingkungan atau bukan, tidak akan pernah menjadi jaminan seseorang mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari secara total. Ada semacam ‘kompromi’ yang perlu dilakukan. Misal dengan membuat poster bertema lingkungan berukuran besar dengan bahan kertas baru dan berkualitas tinggi. Mungkin secara materiil akan menambah jumlah sampah, apabila tidak dimanfaatkan dengan baik dan tepat guna. Tapi apabila itu eye-catchy, diberikan/ditempel pada target audiens yang pas, pesan tersampaikan dengan baik dan ada indikasi perubahan kesadaran akan lingkungan yang lebih tinggi, ya kenapa tidak?
Disisi lain, kalau pakai kertas daur ulang, ada pihak yang merasa kurang tertarik karena tampilan kertas daur ulang yang lebih kasar dan jelek, katanya “nggak menarik, mana saya tahu kalau itu buat kampanye lingkungan.” Nah, loooo….kapan selesainya nih perdebatan? Atau kita merasa sudah memilah limbah rumah tangga namun ketika dibuang di luar rumah tetap saja dicampur dengan sampah lain.
Indonesia sebagai institusi negara tidak mempunyai sistem dan teknologi pengolahan sampah menyeluruh dan efektif efisien dengan prinsip 3R(recycle, reduce and reuse) seperti yang bisa kita temui di Jerman, Jepang atau negara maju lainnya. Karenanya kesadaran dan edukasi tentang sampah sangat bergantung pada geliat masyarakat itu sendiri sebagai individu maupun organisasi. Ini sudah kita lihat mulai banyaknya keluarga yang mempunyai sistem pemilahan dan pengolahan sampah di rumah.
Namun saya tidak mau terdengar apatis terhadap pemerintah kita. Ada contoh positif lain, Pemerintah Kota Denpasar sudah satu langkah lebih maju dari kota lain di Bali dengan penetapan car-free day pada waktu dan rute yang sudah ditentukan.
Peraturan semacam ini juga sudah diterapkan di Jl. Slamet Riyadi, Solo dengan adanya City Walk area untuk mengurangi emisi dengan penggalakan jalan kaki. Begitupun di beberapa kota besar lainnya di Indonesia dengan kebijakan masing-masing. Pertanyaannya, apakah ini hanya trend?
Contoh jenis ‘kompromi’ yang lain: saat ada kampanye lingkungan para aktivis internasional, emang dipikir mereka bisa hilir mudik antar negara begitu cepatnya dengan berenang di laut, atau mereka bersampan di laut demi menjaga laut dari kemungkinan tumpahan minyak yang bisa saja bocor? Atau menyelamatkan udara laut dari bahan bakar saat pakefast-boat? Nyatanya mereka naik pesawat terbang yang sekali terbang saja bisa menghasilkan emisi udara yang luar biasa banyak. Pada penyelenggaraan KTTClimate Change, para pemimpin dunia berdatangan dengan naik pesawat terbang semua. Dan berapa perbandingan emisi yang dikeluarkan? Cek tautan:http://infopemanasanglobal.wordpress.com/2009/03/24/tabel-perbandingan-emisi-co2/
Kalau mau download laporan resminya dari UNEP, badan lingkungan PBB, ada juga di Kick The Habit, di tautan berikut:
http://www.unep.org/publications/ebooks/kick-the-habit/Pdfs.aspx
Sekali lagi, ini perlu kesadaran semua pihak dan itu sungguh bukan pekerjaan yang mudah. Tak akan pernah mudah karena banyak kepentingan bisa saling berpengaruh di sana, bahkan untuk kampanye ramah lingkungan sekalipun.
Apakah dengan begitu para aktivis dan pecinta lingkungan itu bisa dibilang “mengkhianati” lingkungan? Sekali lagi kalau menurut saya pribadi sih, kembali pada diri sendiri, bagaimana kita memperlakukan lingkungan, maka begitulah juga lingkungan akan membalas “kecintaan” kita.
Well?
Dua catatan saya: Cinta lingkungan bukanlah sebuah trend dan aktivis belum tentu pecinta lingkungan dan sebaliknya….hehehew…
Metta Dian.
super sekali… setuju saia