Festival Sinema Perancis 2010

Posted: May 15, 2010 in Article, Movie

Berturut-turut dalam tiga tahun terakhir, saya selalu sempatkan menonton Festival Sinema Perancis. Yang pertama di Surabaya, kemudian dua yang terakhir di Denpasar, Bali. Tahun lalu saya nonton di Alliance Francais Denpasar dan tahun ini diselenggarakan di Kuta Galeria 21. Berniat nonton sehari penuh, berarti 4 film di hari terakhir.  Akhirnya khatam juga…hehehe… Tidak seperti kalau mau beli dvd, saya pasti riset filmnya lebih dulu, pantas dibeli atau tidak. Tapi untuk urusan nonton di festival film macam ini, itu tak perlu lah. Hajar aja di sana nanti! Hehehe….

Keseluruhan menurut Saya

Weess….100 tiket gratis per film dibagikan untuk penonton dari berbagai kalangan. Dari informasi panitia, pada 3 hari penyelenggaraan, dari tanggal 8 – 10 Mei (Sabtu, Minggu, Senin) selama weekend tiket habis! Sempat deg-degan juga sih, jangan-jangan hari Senin ini saya juga nggak dapat tiket?

Ketika sampai di sana saya bisa lihat antusiasme penonton di film pertama. Film kedua lebih banyak lagi yang datang, atau saya kurang memperhatikan berapa penonton yang masuk lebih dulu sebelumnya? Yang pasti saya dapat tempat duduk di bagian depan…hiks… begitu keluar dari bioskop rasanya mata ini menebal karena terlalu dekat dengan layar. Film ketiga hingga film terakhir juga hampir penuh. Saya tidak tahu tepatnya berapa angka penonton yang datang. Tapi kalau dibandingkan dengan tahun lalu memang lebih banyak yang datang tahun ini. Mungkin unsur lokasi. Selain mudah ditemukan, menonton di 21 bagi sebagian orang terasa lebih ‘bergengsi’ di Denpasar. Audio juga lebih proper untuk tontonan layar lebar, ruang ber-AC juga memberikan kenyamanan tersendiri (bila tak bisa saya bilang kadang terlalu dingin). Kemudian, jujur, saya lebih suka booklet festival tahun ini daripada tahun lalu yang lebih sederhana…hehehe…

Hmm…tapi saya tetap lebih suka suasana nonton di Alliance Francais. Mengapa ya?

Tentang film-filmnya

1. Les Enfants de Timpelbach

  1. Berkisah tentang sebuah kota kecil Timpetill dimana para orang tua tidak mampu mengendalikan anak-anak mereka yang cenderung nakal, jahil dan semacamnya. Akhirnya para orangtua memutuskan untuk meninggalkan mereka barang sehari. Kenyataannya mereka justru tersesat, tidak bisa segera kembali ke desa. Sementara anak-anak yang ditinggalkan dengan cepat membentuk dua geng berseberangan. Genderang ‘perang’ segera ditabuh oleh geng anak nakal dan menyerang geng yang lain. Maka ala anak-anak berantem, segala ‘senjata’ di rumah dimanfaatkan. Mulai dari tongkat kayu, raket, wajan, panci, spatula, gerobak pasir, kentang, dll semuanya dikeluarkan. Pertempuran ini berakhir dengan tertembaknya salah satu anak oleh senapan angin betulan. Yang menembak adalah ketua geng anak nakal. Hal ini menyebabkan ia menyesal. Dan dibentuklah sebuah pengadilan anak-anak yang diselenggarakan oleh anak, dihakimi oleh mereka sendiri. Hukumannya? Ala anak-anak lah…cukup dihukum dengan “aksi mendiamkan” terdakwa, tidak boleh berteman dengan siapapun.

Saya sempat rada khawatir bakal terjebak pada film fantasi ala Harry Potter atau semacamnya (abis, setting tempatnya ala desa jaman kuno dan tradisional gituh!) trus khawatir dipenuhi dengan fantasi aneh-aneh ala Peter Pan. Tapi ternyata NGGAK! Enjoyable dan anak-anak banget… dan iya, lucu. Saya merasa seperti kembali pada masa kanak-kanak yang juga bandel. Hehee… Di sisi lain tetap dapat nilai moral yang wajar bagi anak-anak, yaitu menjadi anak yang baik, saling melindungi, setia kawan dan suka menolong, termasuk patuh pada orang tua. Semua jelas tersampaikan dari awal film hingga akhir. Tentang adegan anak-anak nakal/perkelahian…hmm…memang sedikit mengkhawatirkan sih. Tapi buat saya wajar saja, untuk membangun cerita dan bukankah penonton anak-anak saat itu pasti didampingi orangtua? It’s alright lah…

2. Je Crois Que Je L’aime

Ini bukan pertama kali saya menonton film Vincent Lindon! Dan saya menyukainya sejak film pertama yang saya tonton berjudul “Welcome”.

Je Crois Que Je L’aime adalah sebuah drama komedi seorang laki-laki paruh baya bernama Lukas yang sedang mencari cinta setelah perceraian. Karena tidak ingin kembali patah hati, dia meminta Roland, detektif kantornya untuk menyelidiki setiap perempuan yang disukainya. Termasuk kepada Elsa, seniman keramik yang sedang mengerjakan proyek lantai keramik di kantor tersebut. Roland menerapkan penyelidikan dengan pengawasan modern seperti penggunaan CCTV. Setiap detail informasi disampaikan untuk membantu Lukas mendekati Elsa. Hingga dalam proses pendekatan tersebut penyelidikan Roland justru beresiko diketahui Elsa dan hubungan keduanya terancam tidak berlanjut. Disinilah hal-hal lucu terjadi. Hmm…dan khas akhir film romantis Perancis adalah happy ending yang manis ala serendipity…alaaah!

Kalau ditanya nilai moral, buat saya klise aja deh. Berjuang demi cinta, be a warrior of love…eh, saya tetap suka akting Vincent Lindon!

3. Delice Paloma

Film ini lebih berat dari yang lain. Berlatar di Aljazair, berkisah tentang perjuangan perempuan yang bertahan hidup dalam keterikatan budaya dan tradisi lokal. Keinginannya untuk memiliki Caracalla Springs membuat Madame Aldjeria melakukan bisnis ilegal dengan menjadi perantara untuk menyelesaikan beragam masalah masyarakat secara ‘independen’. Dia melakukan segala cara untuk meluluskan permintaan kliennya, termasuk ‘menggolkan’ sebuah perceraian, memenangkan persaingan bisnis, dll. Untuk itu dia merekrut perempuan-perempuan cantik sebagai salah satu unsur pendukung keberhasilan. Salah satunya adalah Paloma yang kemudian jatuh cinta dengan anak Aldjeria. Paloma dijadikan umpan sebagai perempuan ketiga dalam sebuah rumah tangga dimana sang istri sangat menginginkan perceraian dari suami. Di sini semua konflik, intrik dan sekaligus kejatuhan klan Aldjeria dimulai. Sudah ketebak ending ceritanya kan?

Secara pribadi saya suka plot yang bikin mikir. Diacak adut sana sini, setiap fragment jadi seperti puzzle yang harus penonton urutkan sendiri hingga mendapatkan konteks cerita yang utuh. Saya pernah menonton film dengan plot yang lebih rumit. Tapi unsur perempuan dan konspirasi Aldjeria dalam perjuangan ilegalnya membuat saya bertahan. Pantas kalau film ini dapat penghargaan sebagai film berbahasa Perancis terbaik pada France Lumiere 2008.

4. Les Bureaux de Dieu

Film ini mungkin paling berat buat saya. Karena tanpa plot/sub-plot, tanpa karakter sentral layaknya film-film yang lain. Saya bukan seorang penikmat film dokumenter meski saya bisa bertahan menontonnya. Dan film ini sebenarnya semi dokumenter. Terus terang saya tidak sampai selesai menontonnya karena merasa bosan hingga 30 menit pertama (maaf, 30 menit itu aja sudah pakai maksa..hehehe…) mungkin karena sudah lelah nonton nonstop selama 6 jam. Ternyata nonton film bisa capai juga ya. Atau bisa jadi karena juga saya sudah sering mendengar kisah yang sama dengan kasus-kasus yang dipaparkan di film ini.

Gambaran singkatnya aja, film ini berkisah tentang kejadian di balik pintu sebuah kantor konsultasi seksual khusus remaja dengan setting di Perancis. Mulai dari curhat problem para remaja yang datang, melayani pertanyaan seputar mitos-mitos seks, pendidikan seks di rumah dan sekolah, hingga problem nyata dari kehamilan di luar nikah, pemakaian kontrasepsi, dll. Relatif sama dengan problema perilaku seksual remaja Indonesia yang beberapa tahun terakhir ini mendapat perhatian cukup banyak bukan?

Saya memilih untuk keluar juga karena sudah janji bertemu seorang teman di lobi 21. Kemudian lanjut nongkrong dengan Audrey (Alliance Francais)dan Lindya (Youth Corner) hingga film usai dan panitia pulang semua. Hehehe…

Hmm…kalau tahun depan ada kesempatan lagi, saya pasti nonton lagi. Atau nggak usah nunggu festival ini …ada juga banyak event pemutaran film lainnya di Bali. Bolehlah di kejar!

*MettaDian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s