Alah! Sebenarnya saya agak gimana gitu untuk menulis tentang PEA, salah satu penulis favorit saya. Hehehe….ada beberapa orang teman yang tahu betul tentang saya yang menyukai karyanya. Mungkin klasik ya, karena terlalu banyak yang menggemari tulisannya. Saya sederhana saja, saya pertama kali berkenalan dengan buku-buku PEA ketika saya sedang patah hati dan pas sekali ketika membaca salah satu cerpennya Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta.
Kemudian saya mulai berburu karyanya. Meski belum punya semua tapi ada lah minimal tiga bukunya yang saya punya. Dan itu memberikan sebuah kejutan tersendiri buat saya karena ternyata ‘berdekatan’ dengan karya seseorang membuat saya sensi dengan perubahan-perubahan gaya bertuturnya. Beberapa buku kumpulan cerpennya, seperti yang pernah saya baca ulasan karyanya di sebuah koran, disebut-sebut miskin cerita. Meski sangat kaya akan olah rasa pada penokohan di dalam cerita. Lebih sederhanya saya memaknai itu sebagai suatu hal yang benar dalam arti positif (bagaimanapun saya tetap menyukainya…)
Memang karya PEA miskin cerita karena kebanyakan ceritanya berkutat dengan pergolakan emosi serta pikiran satu tokoh saja dalam cerita. Beberapa mungkin lebih dari satu tokoh. Saya justru melihat itu sebagai kekuatan cerita, karena tokoh yang diciptakan justru bisa dengan mudah ‘menusuk’ perasaan pembaca, bila tak bisa dibilang sekedar mengena. Bermain-main dengan perasaan. Mengandung kejutan meski minim dialog.
Itu yang saya rasakan saat membaca karya-karya PEA di buku-buku kumcernya. Kemudian saya sempat membaca novelnya berjudul Bunda. Novel ini adalah novel adaptasi dari sinetron Bunda. Jadi terbalik, biasanya dari buku yang di layar kaca atau lebarkan. Aduh, nggak banget deh. Bukan PEA banget. Seperti ada tarik menarik idealisme gaya menulis PEA dan sinetron Bunda yang sangat populer. Jadinya nggak jelas. Tapi kemudian rasa ketaktertarikan saya pada Bunda, tegantikan dengan novel bersampul merahnya dan bergambar karung. Kalau tak salah ingat judulnya adalah “Seperti Membeli Cinta Dalam Karung”. Wuihh….keren! Sekaligus beda dengan karya PEA yang sebelumnya saya baca. Dan itu tetap keren loh.
Dan tanggal 3 Agustus lalu saya kembali membaca cerpennya di salah satu media yang berjudul Berburu Beruang. Asem! Berubah dia! Tidak lagi berkutat dengan kesibukan keresahan dan kedalamam hati serta pikiran tokoh di dalamnya. Bertuturnya juga lebih ringan dan segar. Tidak kelam. Di cerpen ini sepertinya dia benar-benar ingin membuktikan bisa bermetamorfosis. Eh, apa saya bilang tadi? Ber-meta-….apa? Hahahaha…. Saya narsis!
Baiklah, saya harus jujur, kadang saya suka shock dan susah menerima perubahan atas sesuatu yang saya sukai. Dan itu terjadi pada PEA di novel pertamanya. Tapi sepertinya akhirnya saya bisa bilang, saya tetap suka PEA, baik yang dulu dan sekarang. Cieeee…. <metta dian>
Ps. PEA adalah Puthut E.A.