Refleksi Edukasi Seks Dari Orang Tua di Juno

Tak berapa lama ini saya mengikuti acara nobar alias nonton bareng film berjudul Juno di sebuah pertemuan rutin relawan di payung organisasi tempat saya bernaung (bukan IIWC lho!). Film ini sendiri diusulkan oleh anak-anak IIWC, atas dorongan saya juga. Hehehehe…. Anyway, alasannya karena saya merasa film ini wajib tonton untuk orang Indonesia terutama para orangtua yang mempunyai anak remaja yang sedang atau berpotensi untuk mengalami KTD (Kehamilan Tak Diinginkan).

Film ini sendiri bersetting di Kanada dan bercerita tentang seorang remaja perempuan bernama Juno yang hamil di luar nikah sebagai akibat hubungan yang dilakukan dengan sahabatnya sendiri bernama Bleeker. Meski awalnya dia menginginkan aborsi namun akhirnya nuraninya berkata untuk mempertahankan janin itu. Disinilah konflik berawal. Dia mulai mencari solusi masalahnya sendiri dengan mendapatkan orang tua adopsi dan bagaimana menyampaikan berita tersebut pada orangtuanya.

Saya tidak ingin semata-mata menyoroti perilaku seks bebas di film ini, karena film ini juga tak membahas tentang itu. Saya sangat terkesan dengan tokoh orangtua Juno yang jelas-jelas shock dan tidak menginginkan itu terjadi, setidaknya tidak di usia 16 tahun, dan mereka berusaha menghargai keputusan Juno yang tetap ingin hamil untuk kemudian diserahkan pada orangtua adopsi. Alih-alih marah, orang tua Juno justru mendukung dengan cara menemani Juno dalam pertemuannya dengan calon orang tua adopsi, juga dengan menemani ke dokter untuk cek kehamilan dan segala supply makanan dan minuman sehat untuk ibu hamil

Nah, bagaimana jika ini terjadi pada orang-orang terdekat kita? Anda? Adik, kakak…siapa aja yang anda kenal. Apakah yang anda lakukan? Apakah akan seperti mereka yang masih begitu baik menerima si anak yang mengalami KTD?

Ini menjadi bahan diskusi yang lumayan menarik untuk kami yang masih tinggal di tempat setelah film selesai diputar. Tidak banyak yang tinggal, mungkin karena filmnya yang kurang menarik untuk teman-teman (padahal menurut saya film ini adalah salah satu alternatif tontonan bermuatan social yang keren meski kemasannya sedikit komedi).

Ada yang suka dengan film ini karena memang bisa melihat sisi hiburan dan sex education terutama untuk para orangtua yang menghadapi masalah serupa. Namun ada pula yang tidak suka karena tidak applicable untuk alat edukasi bagi orang Indonesia. Yang paling menarik dari diksusi kami adalah terbawanya kami pada angan-angan tentang bagaimana mendidik tentang seks pada anak-anak kami kelak. Apakah akan seperti yang pernah disampaikan beberapa aktivis kesehatan repro yang punya nama besar yang dengan bangga menyatakan telah memberikan pendidikan seks pada anak-anaknya sejak masih kecil dengan beragam cara? Seperti mandi bersama orang tua, mengajarkan istilah-istilah biologis seperti vagina dan penis yang dianggap lebih baik daripada membiarkan anak-anak berkata bawuk dan manuk (bahasa Jawa) atau ketika anak-anak sudah beranjak dewasa maka orang tua mulai menunjukkan cara memasang kondom yang benar beserta penjelasan tentang kegunaannya.

Tentunya setiap orang tua yang peduli akan mempunyai caranya masing-masing untuk mendidik si anak agar lebih sadar tentang bahaya berbagai penyakit jika melakukan seks yang tidak aman. Dan yang lebih penting lagi adalah mempersiapkan anak untuk menghadapi resiko moralitas yang akan jadi sangat pincang jika telah terjadi KTD. Kenapa? Karena stigma masyarakat kita yang sangat tidak realistis saat ini ketika menanggapi seorang perempuan yang hamil di luar nikah. Bahwa si perempuan itu adalah seorang pelacur, penggoda laki-laki, tidak nggenah, tidak bermoral, dll. Sedangkan si laki-laki masih bisa dengan bebas menghirup udara segar tanpa stigma sebagai laki-laki perusak moral, pemerkosa, penjahat kelamin, dsb. Yang saya bicarakan adalah dalam kondisi terburuk.

Mungkin tidak obyektif ya, karena pada beberapa kasus yang saya lihat sendiri ada kok pasangan yang akhirnya mampu menghadapi masalah KTD dengan relatif “baik”, yaitu menikah saja. Itu saja masih diikuti kasus lanjutan yaitu ketika si istri melahirkan kurang dari 9 bulan masa pernikahan maka masyarakat akan mulai “berhitung”. Dan kemudian timbullah kasak-kusuk yang tetap saja mempertanyakan moralitas pelaku seks pranikah. Waaah! Padahal kasak kusuk saja sudah termasuk ciri-ciri orang yang tidak beriman. Kalau tidak beriman, bukankah moralitasnya juga dipertanyakan? Betul tidak?

Lepas dari itu semua, saya hanya ingin menyampaikan bahwa seks adalah sebuah kebutuhan manusia sejak seseorang itu melewati proses kedewasaan. Yang perempuan mulai menstruasi dan yang laki-laki mulai dengan mimpi basah. Adalah haknya untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Hanya saja kadang pada usia remaja tidak terkontro dan tanpa disertai kesadaran akan tanggung jawb atas sebuah akibat. Bisa jadi karena ketabuan yang masih mengakar kuat di masyarakat. Atau kurang terbukanya orang tua berbicara mengenai hal tersebut hingga anak akan mencuri-curi kesempatan dengan sembunyi-sembunyi mencari informasi pornografi di internet, majalah, dll. Edukasi yang lebih buruk kan? Apalagi jika kemudian si anak hamil diluar nikah atau menyebabkan kehamilan di luar nikah? Yang paling buruk adalah jika si orang tua kemudian justru ada dalam posisi sama dengan masyarakat yaitu menghakimi. Parah tuh!

Mungkin tulisan ini sangat berpihak pada korban. Entah korban pandangan masyarkat yang sangat miring tentang KTD, atau korban dalam arti yang sebenarnya. Yaitu korban lelaki tak bertanggung jawab yang kemudian membuat si perempuan makin terpojok oleh ketabuan tersebut.

Saya masih ingat, saya merasa bangga saat melihat ada kasus pemerkosaan yang konon dilakukan oleh seorang artis pendatang baru, beberapa tahun yang lalu. Saya bangga dan terharu melihat ibu korban yang dengan begitu kuat memperjuangkan kebenaran saat anaknya justru di tuduh balik sebagai perempuan penggoda oleh pelaku. Secara hukum kasus itu tetap berjalan dan akhirnya terbukti jika memang anak perempuannya diperkosa. Akhirnya pelaku dihukum penjara sekian tahun, dan kini kabarnya dia pun sudah bebas. Tentunya perjuangan itu sangat tidak mudah, mengingat stigma masyarakat akan dengan mudah mengarah pada kesalahan si anak perempuan. Bukan si pelaku. Dukungan orang tua yang seperti ini yang secara riil bisa ditiru jika anak anda mengalami masa-masa buruk semacam ini.

Ufff… oleh karenanya apa salahnya jika nonton Juno sebagai salah satu alternatif tontonan yang bisa menjadi referensi tentang keterbukaan orang tua terhadap masalah seks anak dan mulai menyingkirkan ketabuan-ketabuan tersebut?

Tentang Juno:

Pemeran: Ellen Page, Michael Cera, Olivia Thirlby, Jennnifer Garner, Jason Bateman, Aman Johal.

Original screenplay: Diablo Cody.

Original Music: Matt Messina.

Award: Academy Award (Oscar) untuk original screenplay.

Satoshi Nakamura is Back!!!

       

Foto ini diambil setelah Satoshi dibebaskan.

Foto ini diambil setelah Satoshi dibebaskan.

        

          Kenapa saya memilih judul itu? Karena saya memiliki empati yang cukup besar pada relawan yang satu ini. Padahal, jujur saya tidak pernah mengenalnya secara pribadi, pun tak pernah bertemu dengannya secara langsung.

         Satoshi Nakamura adalah salah satu relawan di sebuah organisasi jaringan kerelawanan internasional yang saya kenal bernama NICE (Never-ending International workCamp Exchange), salah satu partner IIWC di kawasan Asia Pasifik. Tanggal 8 Okober 2007 lalu dia diculik oleh gerombolan orang tak dikenal di Iran. Saat itu dia baru saja menyelesaikan satu tugasnya untuk menjadi relawan yang mengajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris di sebuah panti asuhan di Subedigaun, Nepal melalui organisasi pengirim di Jepang (NICE) dan organisasi penerima di Nepal (NIFC, yang juga merupakan anggota dari jaringan YAP International).

          Saat saya mendapatkan informasi itu melalui jaringan email NVDA leaders, saya masih berada di Eropa untuk kegiatan kerelawanan juga. Meski saya berkegiatan di negara yang relatif tanpa konflk (berbeda dengan Iran), namun mungkin karena ada kesamaan situasi bahwa kami sama-sama relawan yang sedang berkegiatan di luar negeri masing-masing, jauh dari rumah, kawan dan keluarga, maka itu menimbulkan empati tersendiri di lubuk hati terdalam saya. Bahkan saya sempat sedikit paranoid. Bagaimana bila saya juga mengalami hal yang sama? Bagaimana dengan keluarga saya, saudara dan teman saya?

           Sejak itu saya terus mengikuti perkembangan berita melalui internet, terutama di milis. Disitu saya melihat respon dari semua organisasi dalam jaringan sangat bagus dengan saling memberikan dukungan moral dan suara untuk percepatan pelepasan dan pemulangan Satoshi. Bukan hal-hal besar seperti negoisasi dengan penculik dll, yang dilakukan, karena itu sudah menjadi bagian dari birokrasi yang lebih tinggi di level pemerintah dan departemen keamanan. Yang dilakukan oleh jaringan adalah membantu pemerintah dengan mengumpulkan suara dari anak-anak di panti asuhan yang ditinggalkan Satoshi di Nepal, keluarga yang menampungnya, para guru dan penduduk sekitar yang menyuarakan cinta dan harapan mereka akan kepulangan Satoshi. Beberapa staf dari NIFC bersama wartawan NHK cabang New Delhi juga bergerak mengumpulkan informasi tambahan atas riwayat kedatangan Satoshi, kegiatannya hingga berakhirnya program sosial tersebut hingga jejak terakhir Satoshi yang masih sangat kabur, yaitu pergi ke India, Pakistan hingga Iran melalui perbatasan Pakistan – Iran. Niatnya hanya ingin jalan-jalan ke sebuah benteng kuno yang sempat hancur karena gempa di propinsi Kerman, Iran, pada 2003, sebelum tiba jadwalnya kembali ke Jepang.

         

Berita yang berkembang kemudian adalah Satoshi diketahui telah diculik oleh gerombolan Esmail Shahbakhsh yang meminta pertukaran sandera dengan anaknya yang dipenjara karena beberapa kasus pembunuhan dan penculikan oleh pemerintah Iran saat itu. Dalam hal ini hubungan yang baik antara pemerintah Jepang dan Iran sangat membantu dalam proses pencarian dan pelepasan Satoshi dari penyanderaan. Rassoul Akram, markas besar keamanan di Kerman berafiliasi dengan pasukan para-militer revolusi, adalah termasuk yang menangani kasus ini di lapangan.
          
         Penantian sepanjang delapan bulan itu akhirnya membuahkan hasil dengan dilepasnya Satoshi dari drama penyanderaan pada tanggal 15 Juni 2008 lalu. Berita ini saya terima sehari setelah pelepasan itu, masih dari milis NVDA leaders dari presiden NICE, yang tentunya mendatangkan respon yang positif dari para partner di seluruh dunia. (ps. Maaf, karena malas ngeblog jadi baru sekarang di posting. Hehehe…)

Saya pribadi tentu juga ikut bahagia dengan berita yang menggembirakan ini. Semoga Satoshi bisa segera pulih dari trauma yang sangat mungkin dideritanya, syukur bila tidak. Dan yang pasti berkumpul kembali bersama keluarga yang dicintai dan mencintainya adalah anugrah yang tak ternilai, bukan?
         
         Saya berharap kasus ini tidak serta merta menyurutkan niat baik dan ketulusan kawan-kawan relawan yang mungkin sempat menyala-nyala untuk beridealisme untuk pergi ke suatu tempat terpencil untuk menyumbangkan waktu, energi dan ilmunya untuk orang lain. Atau bahkan tak hendak menyurutkan niat kalian untuk sekedar eksplorasi keindahan dunia di lokasi konflik atau rawan bencana sekalipun. Karena selain doa, adalah juga penting melengkapi diri dengan segala informasi dan materi yang akan anda butuhkan di lapangan nanti. Jangan lupa untuk selalu punya back-up person atau back-up organization dan selalu update informasi dengan mereka, untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi.
         
         Well, setidaknya itulah yang saya pelajari dari seorang Satoshi Nakamura dan kasusnya. Sekali lagi, selamat atas kepulangannya ke negara dan keluarga tercinta. Satoshi Nakamura is baaacck!!!! <metta dian>
Data kasus dikumpulkan dari berbagai sumber online baik media maupun organisasi yang terkait secara langsung.